Minggu Ini Boleh Sedih

"Minggu ini boleh sedih," gumam Raye yang masih bisa ditangkap indra pendengaran Hanin. Sontak perempuan berambut hitam sepunggung itu menghentikan kegiatan mengetiknya, lalu menoleh. 

"Judul buku baru, Ray?" 

Kaneraye atau akrab dipanggil Raye dan Hanin adalah penulis yang karyanya sudah dibaca ribuan orang di media sosial. Bahkan, beberapa karya tulis mereka sudah diterbitkan menjadi novel. Kedua bersahabat itu sering menghabiskan waktu bersama untuk mencari ide untuk karya mereka selanjutnya. 

Raye menggeleng. "Bukan, Mbak." Bisa dilihat, perempuan yang lebih muda dari Hanin itu baru saja menghela nafas lelah. 

"Lantas kenapa?" tanya Hanin. Kini ia sudah menarik kursinya mendekati Raye, mengabaikan sejenak cerita barunya yang baru sampai tahap prolog. 

"Minggu ini berat, ya? Banyak masalah datang beruntun. Belum selesai masalah yang satu, masalah lainnya sudah datang lagi. Kalau boleh jujur, aku capek, Mbak." 

Hanin sengaja diam. Memberi jarak beberapa detik sebelum ia menjawab, "Kalau disuruh memilih, manusia maunya bahagia, Ray. Tapi, kamu sadar nggak? Bahwa yang mau bahagia bukan kamu saja. Beli sayur di pasar saja harus antre, begitu pula beli bensin. Masa mau bahagia nggak mau sedihnya juga?" 

"Iya jelas. Mana ada manusia yang mau sedih melarat?" Raye tidak setuju. Hanin sudah menduga bahwa perempuan muda itu bakal lebih mengutamakan kata hatinya dibanding logikanya. 

"Raye, semakin kamu tumbuh, semuanya seakan tampak salah di mata kamu. Tapi, semakin kamu dewasa, kamu dipaksa paham bahwa hidup memang selalu menawarkan rasa pahit," ujar Hanin tenang, "untuk jadi penulis sehebat sekarang saja kamu berawal dari penulis pemula yang pembacanya nggak seberapa. Untuk bisa bahagia pun kamu harus bisa berdamai dengan luka." 

Setelah berkata demikian, Hanin kembali ke mejanya. Membiarkan Raye berpikir, melatih Raye agar paham. Di dunia ini, ada jutaan manusia yang juga sedang berjuang untuk mengerti apa makna bahagia sebenarnya. Namun, Raye pun ada benarnya. Minggu ini boleh sedih, begitu pula minggu depan. Siapa yang larang?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cheating On You

Happier