The Game Called Roleplay That Never Ends
Ruangan kamar dengan penerangan redup itu lengang. Tidak ada suara selain ketukan pensil dengan meja belajar yang sudah terdengar sejak 10 menit lalu. Seperti malam-malam sebelumnya, malam ini pun ribuan butir air jatuh membasahi setiap sudut Kota Semarang.
Sudah masuk malam ke-18 di bulan Januari 2021 dan perempuan itu masih sibuk dengan lembaran kertas di hadapannya. Setahun lebih ia menulis imajinasinya hingga lembaran kertas itu memiliki tebal yang hampir sama dengan buku paket Biologi zaman SMA.
Perempuan itu dikenal dengan nama Sekar. Dengan seluruh kemampuan yang ia punya, ia menciptakan sosok bernama Hanindita secara sempurna.
***
Di suatu tempat yang sangat jauh, di dimensi yang berbeda. Tanpa Sekar sadari, tanpa seorang pun tahu. Jika manusia di bumi menyuarakan keterpurukannya melalui imajinasi, maka apa saja yang ia pikirkan benar-benar terjadi. Termasuk lahirnya Hanindita dalam dunia yang disebut roleplay. Dunia yang berkali-kali lipat lebih maju dibanding peradaban manusia sekarang.
"Dunia ini bernama roleplay. Di mana hidup kita semua ada di bawah kendali manusia yang kita sebut sebagai kreator. Karena kita lahir dari suara kekosongan, kesepian dan kesedihan mereka." Begitu kata Marsella, sahabat Hanin selama di sini.
Hanin menghela nafas pelan, dipandanginya langit merah kekuningan dengan matahari yang hampir terbenam. "Aku sudah setahun lebih berada di sini, Sel. Banyak cerita yang sudah aku perankan, namun semuanya belum tamat. Apa aku tidak bisa pergi saja?"
"Suatu saat nanti, kreatormu akan menyadari betapa ia meninggalkan banyak hal karena terlalu asyik berimajinasi. Saat itulah, saat kreatormu jenuh dan lelah, maka kamu akan pergi dengan sendirinya. Jangan khawatir," jawab Marsella, tangan perempuan itu mengusap lembut bahu Hanin bermaksud menenangkan.
"Mbak Sekar kreator yang keren, pasti dia sedang menyiapkan cerita yang hebat untukku. Nanti, kalau cerita ini tamat, aku harap kehidupanku di sini juga selesai," ucap Hanin dengan senyum lebar, "banyak teman-temanku yang sudah pulang. Cerita mereka sudah usai, entah itu berakhir menyenangkan atau justru menyedihkan."
"Aku harap kreatorku juga segera menyelesaikan ceritanya, Nin. Nanti kita pulang bersama."
***
Suara jendela yang tiba-tiba tertutup akibat angin kencang membuat Sekar kembali tersadar. Ia kembali mengambil selembar kertas dan mulai menulis judul baru.
"Hanin belum boleh pergi. Ada hal yang belum selesai, ada cerita yang harus ditamatkan."
Lagi, kreator di balik karakter Hanindita itu tenggelam dalam ide-ide yang terus muncul di kepalanya. Selagi masih ada waktu, selagi masih ada kesempatan, semua ide itu harus ditulis. Sebelum ia mengakhiri hidup karakter malang itu dengan ucapan terima kasih kepada teman, sahabat, keluarga, pasangan dan siapa pun yang ia temui di permainan yang tidak pernah selesai itu.
Cerita Hanin masih berlanjut. Ia masih belum menemukan jalan keluar.
Komentar
Posting Komentar